Rekan-rekan insan pengadaan yang saya hormati,
Di era keterbukaan informasi ini, setiap tindakan pemerintah berada di bawah sorotan tajam masyarakat. Tidak ada yang lebih sering menjadi sorotan selain proses Pengadaan Barang/Jasa (PBJ). Bagi publik, pengadaan adalah "etalase" terdepan dari pemerintahan. Dari sinilah mereka menilai apakah uang pajak mereka dikelola dengan amanah, apakah pemerintah bekerja untuk kepentingan mereka, atau sebaliknya.
Sayangnya, etalase ini seringkali terlihat buram. Berita tentang proyek mangkrak, kualitas bangunan yang buruk, atau dugaan KKN telah melahirkan sinisme dan skeptisisme yang mendalam. Publik cenderung melihat proses tender sebagai sebuah "kotak hitam" yang rumit dan rawan permainan.
Di sinilah peran fundamental teman-teman sebagai Kelompok Kerja Pemilihan (Pokmil) dan pelaku PBJ lainnya dipertaruhkan. Kita sering berpikir bahwa tugas utama Pokmil adalah menyelesaikan tender sesuai jadwal dan aturan. Namun, ada tugas yang jauh lebih besar dan mulia: menjadikan setiap proses pengadaan sebagai instrumen aktif untuk membangun dan memulihkan kepercayaan publik.
Bagaimana caranya? Kepercayaan tidak dibangun dengan slogan, melainkan dengan tindakan nyata yang konsisten. Ada tiga pilar utama yang bisa di tegakkan dalam setiap paket yang di tangani.
1. Pilar Pertama: Integritas sebagai Kompas Moral
Kepercayaan publik dimulai dari sini. Integritas bukanlah sekadar kepatuhan pasif untuk tidak menerima suap. Integritas adalah kompas moral aktif yang memandu setiap keputusan kita.
-
Profesionalisme Tanpa Kompromi: Ini berarti berani menolak intervensi dari pihak mana pun, mengevaluasi penawaran secara objektif berdasarkan dokumen, dan tidak memiliki kepentingan pribadi selain menghasilkan pemenang yang paling berkualitas.
-
Keberanian Berkata "Tidak": Saat menemukan spesifikasi yang janggal atau HPS yang tidak wajar, integritas menuntut kita untuk bersuara, bukan diam dan sekadar menjalankan perintah.
Setiap kali menyelesaikan sebuah tender dengan integritas penuh, kita mengirimkan pesan kuat kepada publik: "Proses ini adil, profesional, dan dapat dipercaya."
2. Pilar Kedua: Transparansi yang Melampaui Keterbukaan Dokumen
Transparansi sering diartikan sebatas mengunggah dokumen di SPSE. Ini penting, tetapi tidak cukup. Publik butuh lebih dari itu. Mereka butuh "transparansi substantif".
-
Jelaskan "Mengapa": Ketika mengumumkan pemenang, kita bisa melangkah lebih jauh. Sediakan ringkasan atau penjelasan sederhana mengenai alasan mengapa penyedia A menang dan penyedia B kalah, terutama pada aspek teknis yang menjadi pembeda utama. Hal ini mengubah "kotak hitam" menjadi "rumah kaca".
-
Responsif dan Edukatif: Saat ada pertanyaan atau sanggahan dari peserta maupun publik, jawablah dengan data dan argumen yang kokoh, bukan dengan bahasa birokrasi yang defensif. Jadikan setiap interaksi sebagai momen edukasi tentang aturan main dalam pengadaan.
Transparansi yang cerdas akan mematahkan asumsi negatif dan menunjukkan bahwa setiap keputusan didasarkan pada logika dan peraturan yang jelas.
3. Pilar Ketiga: Akuntabilitas yang Berorientasi pada Kualitas Hasil
Pada akhirnya, kepercayaan publik akan diuji oleh hasil akhir. Jalan yang mulus, sekolah yang kokoh, dan layanan kesehatan yang prima adalah bukti nyata dari proses pengadaan yang berhasil.
-
Dari Harga Terendah ke Nilai Terbaik: Mari geser paradigma kita dari sekadar "mencari pemenang termurah" menjadi "memilih mitra terbaik" yang mampu memberikan value for money. Proses evaluasi teknis harus menjadi jantung dari pengambilan keputusan kita.
-
Akuntabilitas Proses dan Hasil: Kita bertanggung jawab bukan hanya pada sahnya berita acara, tetapi juga pada dampak dari keputusan kita. Dengan memilih penyedia yang kompeten, kita secara langsung bertanggung jawab atas kualitas infrastruktur dan layanan yang akan dinikmati masyarakat.
Penutup: Kita Adalah Pembangun Kepercayaan
Rekan-rekan Pokmil,
Pekerjaan Pokmil jauh lebih besar dari sekadar urusan administrasi tender. Pokmil berada di garis depan dalam pertempuran memenangkan hati dan kepercayaan rakyat. Setiap lembar evaluasi yang di isi, setiap rapat yang di pimpin, dan setiap berita acara yang di tanda tangani adalah sebuah pernyataan.
Mari jadikan etalase pengadaan di NTB sebagai etalase yang bersih, terang, dan membanggakan. Mari buktikan bahwa melalui proses PBJ yang berintegritas, transparan, dan akuntabel, Pokmil tidak hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangun fondasi terpenting dari sebuah pemerintahan yang baik: kepercayaan publik.
Selamat bekerja, para Pembangun Kepercayaan!
[One/LPSE NTB]